Showing posts with label umum. Show all posts
Showing posts with label umum. Show all posts

Monday, 28 August 2017

Keragaman



Keragaman
Oleh : Rizki Zakwandi
            Keragaman merupakan hasil dari perbedaan yang tercipta, baik itu perbedaan dari segi jasmani ataupun rohani. Perbedaan dari segi rohani yang paling nyata adalah adanya jenis kelamin laki-laki dan perempuan, orang yang bertubuh besar dan kecil, tinggi dan rendah dan lain sebagainya. Secara rohani perbedaan yang muncul adalah dari segi kepercayaan, agama, aspek psikis, mental dan sebagainya.  
            Dalam perspektif ilmu social, yang dikaji pada pembahasan tentang keragaman adalah bangsa, ras, agama, budaya, ideology. Keragaman bangsa dihasilkan dari jejak sejarah nenek moyang suatu bangsa, Indonesia lahir dari keturunan suku melayu dengan demikian Indonesia merupakan bangsa yang berakarkan melayu. Keragaman ras lahir dari faktor genetic nenek moyang, keragaman agama lahir dari kepercayaan akan tuhan, keragaman budaya lahir dari interaksi manusia dengan lingkungan sekitar dan keragaman ideology lahir pemahaman antara kelompok manusia itu sendiri.
         

Friday, 1 July 2016

Sosiologi dan Filsafat

Salam Intelektual sahabat cerdas, beberapa pandangan baru bisa menjadi penyegar kita dalam berfikir dan memberikan tambahan dalam referensi baik hidup didunia kerja, dan masyarakat. Beberapa waktu lalu saya mendapat buku tentang sosiologi dan filsafat, meskipun bukan dalam ranah program studi saya secara kusus, tapi sebagai penambah wawasan sangat berarti. kali ini saya menyajikan ringkasan dan simpulan buku tersebut. 

Representasi Individu dan Representasi Kolektif, Absurditas Pelekatan Ide kepada Sel
Eksistensi ingatan cukup untuk menyatakan bahwa representasi kehidupan tidaklah inheren dalam zat saraf; sebab ia memiliki cara berada diri sendiri, dan berdasarkan kekuatan-kekuatannya sendiri. Karena reaksi-reaksi unsur otak satu sama lain diterima dan ditekan oleh ingatan, bukan satu-persatu tetapi secara keseluruhan dalam apa yang dapat dinamakan sebagai eksistensi komunal. Bilamana ada kehidupan komunal, maka akan terdapat dampak-dampak yang jauh melampaui pengaruh unsur-unsur. Itulah sebabnya, dengan cara yang sama bisa dikatakan bahwa pengetahuan tentang apa saja yang berlangsung dalam pikiran individu tidak memberikan kunci untuk mengetahui apa yang ada dalam pikiran kolektif.
            Moral berawal dari anggota suatu kelompok dan ketika dia dianggap menempatkan individu lebih rendah dibanding kewajiban sosial dan waktu menunjukkan bahwa dewasa ini kewajiban utama manusia ialah melaksanakan kewajiban profesionalnya.  “Masyarakat bukanlah sebuah sistem organ fungsi tetapi merupakan pusat kehidupan moral”.  “Fungsi masyarakat yang sebenarnya ialah menciptakan ideal”. Oleh karena itu, masyarakat membentuk suatu pusat asal melalui mana hakikat melintas untuk kemudian melampaui dirinya sendiri.

Filsafat dan Fakta Moral
Tujuan yang selalu ingin dikejar dan dicapai oleh para filsuf moral sepanjang zaman sangat berbeda sifatnya. Sebab mereka tidak pernah mengarah pada suatu tujuan representasi tertentu, tanpa menambah atau mengurangi realitas moral yang ada. Ambisi para filsuf moral seringkali adalah membangun moralitas baru, yakni suatu moralitas yang berbeda dalam tema esensial dengan yang dianut oleh rekan mereka atau para pendahulu mereka.  Mereka itu biasanya revolusioner atau pemberontak. Sedang persoalan yang dibahas adalah bagaimana menemukan kandungan moralitas. Bukan kandungan sebagaimana dipandang oleh filsuf tertentu, tetapi kandungan sebagaimana dipandang oleh kemanusiaan dalam wujud diri kolektif. Dari sudut pandang ini, doktrin-doktrin para filsafat tadi kehilangan sebagaian besar nilainya.
            Namun adalah sangat keliru untuk beranggapan bahwa para filsuf itu terabaikan. Yang ditolak adalah: hak istimewa dan keutamaan yang sering diberikan pada mereka. Mereka mengajari tentang fakta, mengajarkan tentang apa yang  ada dalam pikiran publik pada kurun waktu tertentu, dan oleh karena itu seharusnya mereka bisa memberikan penjelasan yang memadai. Yang tidak disetujui adalah: mereka mengungkapkan kebenaran moral dengan cara yang sangat muluk-muluk sebagaimana pakar fisika atau kimia menyatakan kebenaran tentang susunan suatu benda di bawah judul fisiko-kimiawi. Konsepsi para filsuf dan moralis telah banyak membantu untuk memasuki lebih jauh lagi analisis kita tentang ilmu masyarakat (kesadaran komunal) menuju lapisan dimana arus yang usang dan separuh sadar tersebut diteliti.

Pertimbangan Nilai dan Pertimbangan Realitas

Friday, 25 March 2016

Skala pembanding

Comparative Scale
Oleh : Rizki Zakwandi
Sebagai makhluk yang berfikir manusia mempunyai kemampuan untuk menganalisis dan menyimpulkan sesuatu yang terjadi. Proses analisis dan menyimpulkan dapat dilakukan melalui berbagai cara diantaranya menghubungkan suatu kejadian dengan kejadian lain kemudian menarik kesimpulan, dan juga ada cara lain yakni dengan membangdingkan suatu hal dengan hal yang lainnya. Diantara kedua hal diatas manusia lebih cendrung untuk membandingkan sesuatu dengan sesuatu yang lainnya, seseorang dengan orang lainnya. Dalam projeck keilmiahan ada beberapa syarat yang harus dipenuhi ketika membandingkan sesuatu diantaranya sesuatu yang dibandingkan harus sejenis, artinya tidak mungkin membandingkan antara hewan dengan manusia. Selanjutnya harus ada skala atau patokan yang menjadi pembanding, misalnya efisiensi mesin dengan acuan penggunaan bahan bakar. Disamping itu ada juga yang menjadi perhatian dalam membandingkan yaitu harus secara horizontal, sebagai contoh kita ingin membandingkan hasil program maka program tersebut harus setara dan tidak bisa kita membandingkan program pengolahan tingkat dasar basic program dengan program tingkat lanjut atau advance program.
Keseringan yang terjadi dalam kehidupan kita adalah membandingkan sesuatu yang tidak sejenis dan tidak setara ataupun tanpa acuan yang jelas. Misalnya ketika kita membandingkan hasil belajar (dalam penelitian pendidikan), sering kita membandingkan antara hasil belajar siswa IPS dengan IPA atau dengan kelompok study lainnya seperti bahasa dan agama. Pembandingan seperti ini tidak akan dapat mencapai penyelesaian karena alur dan fokus antara masing masing kelompok studi berbeda. Dalam bangku kuliah juga banyak terjadi perbandingan seperti demikian, misalnya membandingkan IPK antara mahasiswa jurusan hubungan masyarakat dengan fisika atau fisika dengan pendidikan fisika. Dalam kasus ini kita sering tidak menimbang tolak ukur yang efektif ketika membandingkannya, dalam hubungan masyarakat tuntutan yang diberikan hanya untuk berkomunikasi dengan masyarakat kita anggap dengan faktor C1, dalam program studi fisika mereka dituntut memahami konsep dan teori kita misalkan C2, sedangkan dalam program studi pendidikan fisika mereka dituntut untuk mampu menguasai konsep dan berkomunikasi sehingga harus menguasai C1 dan C2. Maka kita tidak bisa membandingkan begitu saja. Alternative lain yang bisa ditinjau sebagai pembanding adalah kontribusi dan dedikasi serta peran serta mereka dalam mengaplikasikan ilmu mereka.