Showing posts with label Artikel. Show all posts
Showing posts with label Artikel. Show all posts

Friday, 2 November 2018

Termometer



   Termometer
Oleh : Rizki Zakwandi, dkk
    Pengertian 
   Termometer adalah alat ukur berskala yang dapat di gunakan untuk mengukur suhu (temperatur) ataupun perubahan suhu dalam satuan Celsius, Reamur, Kelvin, dan Farenheit. Pada dasarnya, termometer terbuat dari tabung kaca yang didalamnya diisi zat cair termometrik. Istilah termometer berasal dari bahasa latin yaitu termo yag berarti panas dan meter yang berarti mengukur.
     Fungsi
Umum : Berfungsi untuk mengukur suhu (temperatur), dan juga untuk mengukur perubahan suhu.
Berdasarkan jenisnya
1)      Termometer Ruangan : Termometer ini berfungsi untuk mengukur suhu pada sebuah ruangan.
2)      Termometer klinis : digunakan para dokter dan perawat untuk mengukur suhu tubuh manusia.
3)      Termometer Inframerah : digunakan untuk mengukur suhu benda yang sangat panas. benda yang bergerak cepat, atau benda yang tidak boleh disentuh karena berbahaya. Termometer inframerah bisa juga disebut termometer laser.
4)      Termometer optik : Termometer optik biasa disebut juga pyrometer yang biasanya digunakan mengukur suhu yang sangat tinggi (di atas 1000°C).
5)      Termometer Sensor Ganda : dirancang untuk penggunaan profesional karena mereka menyediakan pembacaan ganda lingkungan yang dapat tetap stabil untuk jangka waktu yang lama. Pembaca utama termometer ini dapat dipasang ke meja atau dinding dan penelitian dapat dimasukkan ke dalam berbagai lingkungan untuk pembacaan.
 
    Bagian-bagian Alat

Thursday, 27 September 2018

JANGKA SORONG DAN BAGIANNYA

                                       
JANGKA SORONG DAN BAGIANNYA
Oleh: Rizki ZAkwandi, dkk
      Pengertian
Jangka sorong (vernier caliper) adalah suatu alat ukur panjang yang dapat digunakan untuk mengukur panjang suatu benda dengan ketelitian hingga 0,1 mm. Alat ukur ini mempunyai banyak sebutan misalnya jangka sorong, jangka geser, mistar sorong, mistar geser, schulfmaat atau vernier caliper.
Kegunaan jangka sorong adalah dapat digunakan untuk mengukur ketebalan, mengukur diameter luar, diameter dalam maupun mengukur kedalaman suatu benda.
       Bagian dan Fungsi Jangka Sorong


1.      Rahang dalam
Terdiri dari rahang geser dan rahang tetap. Rahang dalam memiliki fungsi untuk mengukur dimensi luar atau sisi bagian luar sebuah benda misal tebal, lebar sebuah benda kerja.
2.      Rahang luar
Terdiri dari rahang geser dan rahang tetap. Rahang luar memiliki fungsi untuk mengukur diameter dalam atau sisi bagian dalam sebuah benda misalnya diamater hasil pengeboran.
3.      Depth probe atau pengukur kedalaman
Seperti namanya bagian ini mempunyai fungsi untuk mengukur kedalaman sebuah benda.

4.      Skala Utama (dalam cm)
Skala utama dalam bentuk satuan cm memiliki fungsi untuk menyatakan ukuran utama dalam bentuk centimeter (cm).
5.      Skala utama (dalam inchi)
Skala utama dalam bentuk satuan inchi memiliki fungsi untuk menyatakan ukuran utama dalam bentuk inchi.
6.      Skala nonius (dalam mm)
Skala nonius dalam bentuk milimeter berfungsi sebagai skala pengukuran fraksi dalam bentuk mm.
7.      Skala nonius (dalam inchi)
Skala nonius dalam bentuk inchi berfungsi sebagai skala pengukuran fraksi dalam bentuk inchi.
8.      Pengunci
Mempunyai fungsi untuk menahan bagian-bagian yang bergerak saat berlangsungnya proses pengukuran misal rahang dan Depth probe.
      Prinsip Kerja Jangka Sorong

Friday, 13 July 2018

Faktor Faktor yang mempengaruhi Kegiatan Bimbingan dan Konseling


Aplikasi instrumentasi data adalah kegiatan untuk mengumpulkan data dan keterangan tentang peserta didik, tentang lingkungan peserta didik dan lingkungan lainnya, yang dapat dilakukan dengan tujuan untuk memahami peserta didik dengan segala karakteristik dan memahami karakteristik lingkungan.
2.      Himpunan data.
Himpunan data adalah kegiatan untuk menghimpun seluruh data dan keterangan yang relevan dengan keperluan pengembangan peserta didik. Himpunan data diselenggarakan secara berkelanjutan, sistematik, komprehensif, terpadu dan sifatnya tertutup.
3.      Kegiatan khusus
a.       Konferensi kasus.
Konferensi kasus adalah kegiatan untuk membahas permasalahan peserta didik dalam suatu pertemuan yang dihadiri oleh pihak-pihak yan  dapat memberikan keterangan, kemudahan dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan klien. Pertemuan kenferensi kasus bersifat terbatas dan tertutup. Tujuan konferensi kasus adalah untuk memperoleh keterangan dan membangun komitmen dari pihak yang terkait dan memiliki pengaruh kuat terhadap klien dalam rangka pengentasan permasalahan klien.
Kunjungan rumah merupakan kegiatan untuk memperoleh data, dan komitmen bagi terentasnya permasalahan peserta didik melalui kunjungan rumah klien. Kerja sama dengan orang tua sangat diperlukan, dengan tujuan untuk memperoleh keterangan dan membangun komitmen dari pihak orang tua atau keluarga untuk memerantaskan permaslahan klien.
c.       Alih Tangan Kasus
Alih tangan kasus merupakan kegitan untuk memperoleh penanganan yang lebih tepat dan tuntas atas pemasalahan yang dialami klien dengan memindahkan penanganan kasus ke pihak yang lebih kompeten, seperti kepada guru mata pelajaran atau konselor, dokter, serta ahli lainnya, dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh penanganan yang lebih tepat dan tuntas atas pemasalahan yangdihadapi melalui pihak yang lebih kompeten.


Dalam kasus ini, kekurangan tenaga pembimbing disekolah menyebabkan terlalu berat beban tugas yang harus dipikul dalam pelaksanaan bimbingan disekolah, bilamana tenaga pembimbing jumlahnya sedikit sekali untuk menangani siswa yang begitu banyak tentunya tidak akan efektif dan efisien yang akhirnya akan menjadi kendala bimbingan konseling


Tenaga yang ada, yang secara langsung menangani bimbingan disekolah kebanyakan tidak sesuai dengan bidangnya, misalnya kepala sekolah yang masih merangkap jadi guru bimbingan dan lain sebagainya, yang akhirnya proses penaganan dan pelaksanaan tentu tidak sesuai dengan apa yang seharusnya dan tidak tepat sebagaimana mestinya.
c.       Sarana dan prasarana
Kebanyakan sarana dan prasarana yang digunakan masih merangkap dengan fasilitas lainnya, seperti ruangan bimbingan yang masih menyatu dengan ruang kesehatan, dan lain sebagainya.
Dalam penangan bimbingan disekolah, perlu dilakukan dan ditopang oleh kegiatan administrasi. Program bimbingan perlu diorganisir sedemikian rupa supaya memungkinkn terjadinya suatu kerjasama yang harmonis antara pihak sekolah, kepala sekolah, guru bidang studi, pihak ketertiban sekolah dan lainya.
Kegiatan supervisi baik oleh kepala sekolah maupun dari kantor wilayah departemen pendidikan nasional masih belum berjalan sebagaimana mestiya. Hambatan ini mungkin akan menyebabkan keterbatasan tenaga professional yang memadai bagi sekolah.
f.       Kurangnya kejasama antar pesonil pelaksanaan program dalam hal ini konselor, pimpinan instansi, penyelanggara pemerintah
g.      Kurangnya pemahaman dan pengetahuan pendidik dan tenaga kependidikan serta yang paling utama adalah konselor terhadap ketentuan atau perundang-undangan yang secara spesifik mengatur pelaksanaan program

a.      Seandainya Anda seorang guru BK, bagaimana cara menanggulangi persoalan di atas

Jika saya menjadi guru BK Cara untuk menanggulangi persoalan diatas adalah
1.      Dengan mengkaji lebih awal tentang landasan guru sebagai guru BK, berupa perundang-undangan, peraturan, kode etik guru, serta kode etik bimbingan dan penyuluhan, dimana dalam hal ini kita tidak akan keliru sebagai guru bimbingan. Dan yang paling utama ialah kuliah sesuai dengan profesi, misalanya kuliah dalam bidang psikologi, atau kuliah dalam jurusan bimbingan dan konseling.
2.       Mengajukan adanya sarana dan prasarana khusus untuk layanan bimbingan dan konseling, seperti yang kita telah ketahui, dari beberapa sekolah yang telah saya kunjungai dimana kebanyakan sarana dan prasarana dalam layanan bimbingan dan konseling itu kurang memadai. Meskipun dalam pengajuan sarana dan prasarana akan memakan waktu yang lama, tetapi setidaknya ada perjuangan.
3.      Dalam hal organisasi pada layanan bimbingan dan konseling, seperti apa yang telah kita ketahui organisasi dalam layanan bimbingan dan konseling kita harus tetap berkomunikasi dengan guru mata pelajaran, wali kelas, dan bahkan menjalin komunikasi dengan orang tua siswa.

4.      Penambahan tenaga pendidik dalam layanan bimbingan dan konseling, dalam hal ini minimalnya dalam tenaga pendidik bimbingan dan konseling itu ialah dua orang, seperti apa yang telah saya survey pada suatu sekolah SMP di kota Bandung.

Wednesday, 6 June 2018

NERACA DAN BAGIANNYA


NERACA DAN BAGIANNYA
Oleh: Rizki Zakwandi, dkk

.    Pengertian
Neraca atau yang lebih dikenal timbangan adalah alat yang berfungsi sebagai pengukur massa. Dalam KBBI lebih di spesifikasi menjadi neraca adalah alat yang berfungsi sebagai pengukur berat terutama yang berukuraan kecil. Sebagai alat pengukur massa neraca memiliki berbagai macam bentuk sesuai dengan objek yang akan di ukur massanya. 
     Fungsi Neraca
Secara umum fungsi neraca adalah mengukur massa dari suatu benda. Fungsi lanjutan lainnya dapat dilakukan dengan beberapa perlakuan khusus seperti membandingkan (pada neraca dua lengan) ataupun sebagai safety tools sebagaimana yang terjadi pada lift dan lain sebagainya.
     Jenis Neraca
Bebera klasifikasi neraca berdasarkan bentuk dan system kerja yang terdapat pada neraca diantaranya adalah :
a.       Neraca Duduk
Timbangan duduk, yaitu timbangan di mana benda yang ditimbang dalam keadaan duduk . Neraca duduk biasanya digunakan untuk menimbang berbagai kebutuhan pokok rumah tangga, seperti gula, minyak, ikan, dan sayur mayur. Neraca duduk memiliki dua sisi. Benda yang akan diketahui massanya diletakkan pada satu sisi dan anak timbangan yang telah diketahui massanya diletakkan pada sisi yang lain hingga terjadi keseimbangan. Jika keseimbangan telah terjadi, maka massa benda yang diukur sama dengan jumlah anak timbangan di sisi yang lain 
b.      Neraca Gantung
Neraca gantung adalah neraca yang diletakkan menggantung dan bekerja dengan prinsip tuas. Neraca ini berfungsi untuk mengukur massa benda, yang cara kerjanya dengan meletakkan benda yang akan diukur massa  nya di wadah, lalu menggeser beban pemberat disepanjang batang hingga seimbang 
c.       Neraca Sama Lengan
Neraca dua lengan/lebih adalah neraca yang memiliki prinsip kerja yang hampir sama dengan neraca gantung yakni sama-sama menggunakan prinsip torsi dalam pengukurannya. Neraca ini menggunakan prinsip perbandingan untuk mengetahui massa suatu benda yang sedang dihitung (Antika, Dkk. 2012)
    Aplikasi Teknologi Dan Terbarukan

Tuesday, 10 April 2018

Problem Solving Laboratory



Problem Solving Laboratory
(Artikel)

Muhammad Pandu Agus Salim, Novia Rizkianty Samsudin, Rizki Zakwandi, Widya Amanda

Program Studi Pendidikan Fisika Jurusan Pendidikan MIPA
Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung


            Pelaksanaan praktikum bagi siswa merupakan suatu hal yang sangat penting dimana pada praktikum, motorik siswa benar-benar digerakkan. Salah satu desain praktikum yang selain menggerakkan motorik siswa dan juga memberikan kemampuan analitik terhadap permasalahan lingkungan adalah desain praktikum problem solving laboratory.


1.      Pengertian
Problem solving laboratory merupakan salah satu dari desain praktikum yang mana memperkenalkan kepada praktikan bentuk nyata atau manfaat nyata dari praktikum yang sedang dilaksanakan. Praktikan diarahkan bagaimana menemukan sesuatu ketidakseimbangan antara konsep/teori yang dipelajari dengan kenyataan yang diterapkan dan dimanfaatkan dalam masyarakat (problem). Setelah menemukan ketidakseimbangan tersebut maka praktikan dituntut untuk merumuskan suatu solusi dari permasalahan tersebut (Mataka, et al., 2014). Menurut Seyhan Problem solving laboratory adalah pembelajaran/praktikum yang memusatkan perhatian pada siswa dengan membuat siswa aktif dalam pelaksanaan praktikum, mengembangkan kemampuan skill siswa dan menanamkan pada pemahaman yang berkaitan dengan penyelesaian suatu permasalahan (Seyhan, 2015)
Pada praktikum ini, siswa dilibatkan secara aktif mulai dari mengenal permasalahan yang nyata yang disajikan, mengetahui alat dan bahan yang diperlukan, membuat prediksi sebagai solusi sementara dari permasalahan yang disajikan, dan membuat prosedur percobaan sendiri dengan menjawab serangkaian pertanyaan yang ada pada panduan laboratory work. Setelah itu siswa juga melakukan proses pengukuran, menyelidiki / memeriksa apakah ada kesamaan antara data yang diperoleh dengan apa yang telah diprediksikan, memeriksa letak keliruan jika terjadi ketidakcocokan antara data yang diperoleh dengan apa yang telah diprediksikan, mengusulkan perubahan prosedur yang dilanjutkan pada pengulangan proses pengambilan data, serta menilai dan memutuskan dalam bentuk pengambilan kesimpulan jika dipandang sudah tidak terjadi kekeliruan dalam analisis data (Gayatri, et al., 2014). Desain praktikum problem solving sendiri mengantarkan praktikan untuk menemukan bentuk real dari manfaat pelajaran mereka. Sebagian besar berisikan kasus-kasus yang dekat dengan kehidupan atau sering dialami praktikan (Adeyemo, 2010). Laurinda Leite (2005) dalam artikel yang berjudul Evaluating Students' Learning from Laboratory Investigation menyatakan bahwa pembelajaran konseptual dengan pendekatan problem solving berarti penemuan jawaban dari pertanyaan yang spesifik dan perumusan solusi terkait fenomena di dunia nyata.
Pernyataan-pernyataan mengenai definisi desain praktikum problem solving laboratory pada paragraf sebelumnya dapat disimpulkan bahwa desain praktikum problem solving laboratory merupakan desain praktikum yang mengarah kepada implementasi konsep-konsep yang telah dipelajari dengan orientasi pada permasalahan yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan utamanya adalah untuk menemukan bentuk real dari hal-hal yang telah dipelajari oleh praktikan.
2.      Karakteristik
Terdapat beberapa karakteristik dari problem solving laboratory sebagaimana yang dipaparkan oleh Baharom, et al., (2015) dalam jurnal yang berjudul Assessment of psycomotor domain in a problem based concrete laboratory yaitu:
a.       Berorientasi pada solusi dan proses
b.      Bekerja dari permasalahan sehari-hari
c.       Mengantarkan praktikan untuk mendapatkan informasi yang cukup untuk pembelajaran mereka
d.      Merencanakan kegiatan praktikum secara mandiri dan melengkapi diri dengan  membawa informasi yang dibutuhkan kedalam laboratorium
e.       Bekerja secara kelompok (collaborative groups)
f.       Berfikir kritis dengan menanggapi permasalahan di kehidupan sehari-hari
g.      Berfokus pada permasalahan kompleks yang tidak hanya mempunyai satu titik penyelesaian/jawaban
3.      Langkah-Langkah
Desain praktikum problem solving laboratory memiliki beberapa langkah kegiatan utama yaitu:
a.       Mempersiapkan siswa sesuai kemampuan dasar yang dibutuhkan. Selain itu praktikan harus disiapkan untuk mengulangi pengambilan data ulang apabila terdapat ketidaksesuain dengan data yang mereka peroleh pada saat observasi
b.      Membuat kelompok kerja
c.       Menugaskan praktikan untuk memfasilitasi diri secara lengkap
d.      Asisten harus mempersiapkan dan mengecek peralatan yang disiapkan oleh praktikan
e.       Praktikan harus fokus pada permasalahan dan berpartisipasi langsung
f.       Menetapkan formulasi terhadap permasalahan dan melakukan praktikum (Orla & Ordilla, 2007)
Adam Malik dkk (2015) memperjelas langkah pelaksanaan praktikum desain problem solving laboratory sebagai berikut:
a.       Praktikan dapat memecahkan masalah sesuai tahapan yang terpilih, dengan menggunakan curah pendapat dan teknis investigasi masalah
b.      Membangun ilmu yang telah dimiliki dan memperoleh ilmu yang baru melalui studi kasus,
c.       Dapat mengoperasikan alat-alat laboratorium yang berkaitan dengan teori yang diberikan,
d.      Praktikan dapat mempergunakan media yang ada, dan dapat melakukan teknik analisis,
e.       Praktikan dapat menganalisis dan mendeskripsikan, mendiskusikan hasil data praktikum dengan cara laporan tertulis, poster, dan presentasi lisan,
f.       Praktikan dapat bekerja dalam kelompok dengan mengorganisasi tiap-tiap kelompok.
Laurinda menyatakan bahwa untuk permasalahan yang akan dibahas dalam praktikum problem solving maka harus memenuhi kriteria berikut:
a.       Membingungkan
b.      Membutuhkan imajinasi atau bayangan penyelesaian yang praktis
c.       Terdapat banyak kemungkinan penyelesaian
d.      Langkah kegiatan yang ditawarkan dapat dirumuskan dalam satu strategi penyelesaian yang efektif dan efisien. (Leite, 2005)
Pernyataan tentang langkah-langkah kegiatan pada saat pelaksanaan problem solving laboratory sebagaimana yang dikemukan oleh beberapa ahli diatas dapat disimpulkan menjadi lima garis besar kegiatan yaitu: pengidentifikasian masalah, menemukan atau merumuskan solusi dari permasalahan tersebut secara hipotesis, melaksanakan percobaan terkait hipotesis tersebut, mengevaluasi solusi yang ditawarkan berdasarkan hasil percobaan yang dilakukan, dan terakhir yaitu menerapkan atau mengimplementasikan solusi yang telah diperbaiki atau disempurnakan tersebut.

4.      Tingkatan/jenis
Praktikum dengan model problem solvig laboratory memiliki beberapa tingkatan tergantung sejauh mana analisis dan penggunaan metodologinya (Seyhan, 2015). Seyhan menyatakan bahwa metode problem solving pada tingkat advance akan mampu menguraikan saintifik proses dalam arti penemuan defenisi, inkuiri dan berfikir kritis. (Seyhan, 2015). Hasil studi yang dilakukan oleh Cartette & Bodner(2010) mendeskripsikan bahwa banyak jenis dan sudut pandang dalam melakukan problem solving laboratory yang meliputi:
a.        Memory and its organizing, describing the problem space,
b.      Categorizing problems, dan
c.       Testing conceptual understanding as it relates to problem solving ability.
5.      Kelebihan
Pelaksanaan praktikum dengan desain problem solving laboratory memiliki banyak kelebihan bagi praktikan dan juga bagi masyarakat pada umumnya. Kelebihan-kelebihan tersebut diantaranya sebagaimana yang disampaikan oleh Baharom dkk (2015) yaitu :
a.       Meningkatkan kemampuan berkolaboratif/bekerjasama
b.      Meningkatkan kemampuan berfikir kritis
Menurut Seyhan, kelebihan lain yang dimiliki olrh desain praktikum Problem solving laboratory adalah:
a.       Lebih produktif untuk mengimplementasikan konsep kedalam dunia nyata
b.      Beropotensi untuk menemukan konsep baru atau solusi yang lebih baik dari pada solusi yang sebelumnya, artinya problem solving laboratory sangat mungkin untuk diterapkan pada proyek pengembangan
c.       Meningkatkan kepekaan praktikan kepada lingkungan
d.      Meningkatkan kemampuan berfikir kritis
e.       Berfikir rasional
f.       Meningkatkan kemampuan membaca secara komprehensif
g.      Bekerja sama
6.      Kelemahan
Problem solving laboratory selain memiliki beberapa kelebihan juga memiliki beberapa kelemahan diantaranya sebagaimana yang disebutkan oleh Orla Fenelon dan Carmel Breslin (2007) yaitu:
a.       Competition
Situasi dalam kelompok kerja sering dirusak oleh perasaan ingin menang yang dimiliki oleh anggotanya. Secara umum hal ini akan mengganggu keharmonisan dan komunikasi kreatif dalam grup
b.      Conformity
Selain rasa ingin berkompetisi dan ingin menang yang dimiliki oleh anggota kelompok, hal lain yang juga merusak suasana kerjasama dalam kelompok adalah munculnya ideologi yang merasa tidak cocok antara satu anggota dengan anggota lainnya.
c.       Lack of objecktive direction
Munculnya perbedaan pendapat dan sudut pandang saat memberikan solusi dalam kelompok akan berdampak pada solusi akhir yang dihasilkan. Kebanyakan dari solusi yang dihasilkan akan tidak efektif karena antara si-pemberi ide tidak dapat meyakinkan secara penuh kepada anggota lainnya tentang idenya.
d.      Time Counstraints
Problem solving laboratory merupakan desain praktikum yang mengharuskan praktikan untuk mengerti inti permasalahan yang dialami oleh masyarakat. Selanjutnya praktikan harus memberikan solusi terkait hal tersebut yang memiliki korelasi dengan pembelajaran atau teori yang telah dipelajari. Maka untuk memperoleh hasil yang optimal maka membutuhkan waktu yang cukup lama.
7.      Hasil Penelitian
Penelitian dan pengembangan terhadap desain problem solving laboratory telah banyak dilakukan sebelumnya diantaranya adalah sebagai berikut:
a.      (Adeyemo, 2010), meneliti tentang tingkat kemampuan siswa dalam menyelesaikan tugas yang berkaitan dengan problem solving pada mata pelajaran fisika. Penelitian yang berjudul “Students’ Ability Level and Their Competence in Problem Solving Task in Physicsmenyatakan bahwa kemampuan siswa memiliki tingkat pengaruh yang signifikan terhadap kemampuan melaksanakan problem solving dalam diskusi.
b.      (Baharom, et al., 2015),  meneliti tentang bagaimana penilaian dari aspek psikomotor dalam menyelesaikan permasalahan yang konkret di laboratorium. penelitian ini dimuat dalam jurnal yang berjudul “Assessment of Psychomotor Domain in a Problem-Based Concrete Labrotary”. Hasil penelitian menyebutkan bahwa dalam melaksanakan penilaian terhadap kemampuan penyelesaian masalah setidaknya ada empat faktor yang harus diperhatikan yaitu kemampuan mengobservasi, penilaian berdasarkan ujian, teknik serta kesetimbangan terhadap sudut pandang baik dan buruk.
c.       (Cartette & Bodner, 2010), meneiliti tentang bagaimana problem solving laboratory tersebut dilaksanakan untuk menyelesaikan permasalahan tanpa menggunakan pendekatan matematis. Hasil penelitian yang dimuat dalam jurnal yang berjudul Non-Mathematical Problem Solving in Organic Chemistry” menyebutkan bahwa 13 dari 15 siswa mampu mengidentifikasikan hal-hal yang lebih bermanfaat dan lebih tepat digunakan pada perihal penyelesaian permasalahan.
d.      (Gayatri, et al., 2014) meneliti tentang bagaimana mengoptimalkan aspek kognitif siswa melalaui praktiukum berbasiskan pada problem solving appoarch. Hasil penelitian menunjukkan bahwa laboratory work dengan problem solving approach untuk mengoptimalkan domain kognitif siswa yang dikembangkan dalam penelitian ini dapat dikategorikan layak dan dapat digunakan dalam pembelajaran fisika.
e.       (Malik, et al., 2015) meneliti tentang bagaimana meningkatkan keterampilan proses sains mahasiswa melalui pelaksanaan praktikum desain problem solving laboratory. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Adam Malik dkk membuktikan bahwa desain praktikum problem solving laboratory bisa diterapkan sebagai salah satu bentuk atau upaya untuk meningkatkan kemampuan proses sains mahasiswa.
8.      Referensi

[1] Adeyemo, S., 2010. Students' ability and their competence in problem solving task in physics. International Journal of Education Research and Technology, I(2), pp. 35-47.
[2] Baharom, S. et al., 2015. Assessment of psycomotor domain in a problem based concrete laboratory. Journal of Engineering Science and Technology, I(1), pp. 1-10.
[3] Cartette, D. P. & Bodner, G. M., 2010. Non-Mathematical Problem Solving in Organic Chemistry. Journal of Research in Science Teaching, XXXXVII(6), pp. 643-660.
[4] Gayatri, J., Ngazizah, N. & Ashari, 2014. Pengembangan Laboratory Work dengan Problem Solving Approach untuk mengoptimalkan domain kognitif pada siswa kelas XI IPA SMA Negeri 8 Purworejo tahun pelajaran 2013/2014. Radiasi, V(1), pp. 29-35.
[5] Leite, L., 2005. Evaluating Students' Learning from Laboratory Investigation. New South Wales, International Study Association on Teachers and Teaching.
[6] Malik, A., Handayani, W. & Nuraini, R., 2015. Model Praktikum Problem Solving Laboratory untuk meningkatkan keterampilan Proses Sains Mahasiswa. Bandung, Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains.
[7] Mataka, L. M. et al., 2014. The effect of using an explicit general problem solving teaching approach on elementary pre-service teachers ability to solve heat transfer problem. International Journal of Education in Mathematics, Science and Technology, II(3), pp. 164-174.
[8] Orla, C. K. & Ordilla, F. E., 2007. Providing solution through problem-based learning for the undrgraduate 1st year chemistry laboratory. Chemistry Education Research and Practice, VIII(3), pp. 347-361.
[9] Seyhan, H. G., 2015. The effect of problem solving application on the development of science procces skill logical thinking skills and perception on problem solving ability in the science laboratory. Asia-Pacific Forum on Science Learning and Teaching, XVI(2), pp. 8-30.